Perbanyakan dan Budidaya Sikas

 
(oleh Bijan Dehgan, University of Florida, USA. Diterjemahkan seizin penulis oleh Krisantini untuk Buletin Florikultura Indonesia)

 
Sikas (cycads) seringkali dikelompokkan kedalam famili palm, tetapi sebetulnya bukan, karena sikas bukan monocotyl seperti halnya palm. Sikas adalah sekelompok species yang sudah primitif/ sangat tua umurnya dan sebagian besar terancam punah, terutama species-species yang endemik. Sikas lebih dekat kekerabatannya dengan Ginko biloba dan konifer seperti pinus dibandingkan dengan palm. Sikas merupakan tanaman lansekap yang populer di negara-negara tropis mau pun sub tropis dan merupakan kelompok tanaman yang sering dikoleksi oleh kolektor tanaman di seluruh dunia.

 Ukuran sikas bervariasi dari yang kecil, seperti Zamia pygmaea Sims yang berukuran 20 cm dengan jumlah anak daun kurang dari 10 per daun, hingga yang besar seperti Lepidomia hopei Regel yang berukuran kira-kira 20 m  yang memiliki 150-200 anak daun (leaflets) per daunnya. Sikas bersifat dioecious (berumah dua), sehingga cone jantan dan betina berada pada tanaman yang berbeda. Sikas tidak memiliki ovari dan tidak menghasilkan buah seperti palm dan tanaman berbunga lainnya. Biji pada sikas berbentuk seperti buah, walau pun sebetulnya bukan buah. Cone betina terdiri atas struktur mirip daun-daun kecil yang tersusun secara konsentrik, dimana masing-masing

Membawa satu hingga sembilan biji di dalamnya, tergantung species. Struktur yang mirip daun pada sikas disebut megasporophyll. Kecuali pada sikas, megasporophyll pada genera-genera lain memiliki dua biji. Untuk melakukan polinasi buatan dan perbanyakan tanaman dari biji dibutuhkan pengetahuan dan pengertian tentang cone dan struktur benih di dalamnya.

 Banyak species sikas yang tercancam punah, antara lain disebabkan terlalu banyak diambil dari habitatnya untuk dikoleksi dan pembabatan hutan yang berlebihan. Karena itu merupakan tantangan bagi pengusaha tanaman hias dan orang-orang yang bergerak dibidang konservasi lingkungan utnuk dapat menghasilkan sikas dengan karakter-karakter yang baik agar perambahan sikas dari habitatnya berkurang.

Berikut ini akan diuraikan langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk dapat memproduksi sikas secara komersial.

 Produksi Benih dengan Polinasi Buatan

 
Produksi benih dengan cara polinasi buatan dilakukan manusia merupakan satu-satunya metoda untuk reproduksi sikas secara komersial dan berskala besar.  Seringkali terjadi kegagalan polinasi, yang berakibat tidak terbentuknya benih sering terjadi. Kegagalan polinasi dapat terjadi antara lain karena species yang ditanam jauh dari habitat alamnya tidak memiliki serangga tertentu yang melakukan polinasi tsb. Penyebab lain adalah tidak sinkronnya produksi dan kemasakan cone jantan dan betina.

 
Kadang-kadang cone jantan mulai mengeluarkan serbuk sari (pollen) jauh sebelum cone betina siap untuk polinasi. Bila hal seperti ini ditemui, ambil cone jantan sebelum serbuk sari gugur, lalu tempatkan di atas selembar kertas yang lebar atau di dalam kantong kertas. Simpan dalam keadaan kering dan hangat, hindari dari angin. Serbuk sari akan lepas dari cone dalam beberapa hari. Kumpulkan serbuk sari ini dan tempatkan dalam jar yang berisi pengering (dessicant) di dalam lemari pendingin. Bila kondisi penyimpanan baik serbuk sari dapat tahan hidup (viable) selama kurang lebih setahun.

 
Untuk mengetahui kapan cone betina siap untuk polinasi dibutuhkan pengamatan yang teliti sebelumnya. Cone yang sudah berkembang penuh tampak rigid dan berbentuk rosette. Bila sudah siap untuk polinasi megasporophyll tampak berwarna merah muda  keabuan dan mengeluarkan bau yang khas.

 
Bila serbuk sari masak pada saat yang bersamaan dengan masaknya putik, cone jantan dapat langsung didekatkan dengan cone betina lalu digoyang-goyang agar serbuk sari jatuh ke cone betina. Bila memungkinkan, dekatkan cone jantan dengan cone betina, sehingga pada malam hari polinasi dapat dilanjutkan oleh serangga. Namun bila saat masak serbuk sari dan putik berbeda, sebarkan serbuk sari yang sudah disimpan ke atas cone betina. Serbuk sari dapat dicampur dengan bedak untuk mempermudah penyebaran. Gunakan sedotan (straw) bila diperlukan. Kesempatan untuk melakukan polinasi untuk species Cycas adalah antara 2-3 minggu.

 Untuk species selain Cycas, polinasi buatan lebih sulit dilakukan, karena sporophyllnya tersusun rapat-rapat sehingga mempersulit deposisi serbuk sari ke dalamnya. Namun bila cone betina siap untuk polinasi, muncul pecahan panjang pada satu atau beberapa lokasi pada cone, dan mulai keluar bau yang khas.Serbuk sari dapat dimasukkan melalui pecahan ini. Beberapa teknik antara lain menggunakan tusuk gigi atau cotton bud yang sedikit dilembabkan, lalu dicelupkan atau digulingkan di atas serbuk sari, lalu digosokkan ke daerah cone betina yang terbuka. Teknik lain yang baru-baru ini digunakan oleh petani adalah dengan mencampur serbuk sari dengan air, lalu disuntikkan ke dalam cone betina melalui pecahan yang terbentuk.

 
Yang tergolong sangat sulit dipolinasi adalah species Dioon. Hal ini disebabkan pembukaan pada cone terjadi pada dasar cone sehingga menyulikan deposisi serbuk sari dan transfernya ke bagian atas cone. Polinasi pada species ini harus dilakukan sangat hati-hati dan berulang-ulang selama 2 minggu atau lebih.

 

Perlakuan dan Strategi Germinasi Benih

 
Biji dari species Bowenia, Ceratozamia, Dioon, Lepidozamia, Macrozamia dan Stangeria dapat tumbuh dengan relatif mudah, asalkan embrionya berkembang penuh dan sarcotesta nya dibuang sebelum ditanam. Biji Microcycas calocoma juga relatif mudah tumbuh, namun memiliki periode masak yang singkat, malah kadang-kadang benih berkecambah saat cone jatuh dan pecah. Sebaliknya, species Encephalartos spp tergolong sulit berkecambah, walau pun dari luar cone nya tampak normal. Kemungkinan disebabkan polinasi yang tidak sempurna, sehingga walau pun benih secara fisik tampak baik namun tidak mengandung embrio. Benih E. gratus di Fairchild Tropical Garden tidak mengalami kesulitan berkecambah, bahkan mencapai 100 % tanpa perlakuan apa-apa. Perkecambahan terjadi lebih cepat dan serempak bila benih direndam dalam larutan GA3 selama 24 atau 48 jam.

 Benih yangdikumpulkan dari tanaman liar dari species Encephalartos spp dapat berkecambah dengan baik, sementara dari tanaman yang dibudidayakan malah lebih sulit. Kegagalan benih Encephalartos untuk berkecambah dapat disebabkan penolakan spermatozoid oleh sel telur.

 
Masalah tidak berkecambahnya benih sering terjadi pada genera-genera yang dibudidayakan. Zamia dan Cycas mengalami dormansi morfofisiologi yang kompleks, yaitu dormansi yang disebabkan kondisi fisiologis benih, embrio yang tidak matang,  adanya zat kimia yang bersifat inhibitor dalam sarcotesta (daging buah) dan adanya sclerotesta (lapisan benih bagian dalam yang keras) yang tebal dan impermeabel.

Zamia floridana, misalnya, tidak mengalami dormansi embrio bila cones dibiarkan hancur sebelum benih dikumpulkan.

Pemisahan benih dari sarcotesta  dan perlakuan benih dengan asam sulfat (H2SO4) selama satu jam menghasilkan perkecambahan yang baik dalam 20-30 hari. Bila perlakuan ini diikuti dengan perendaman dengan GA3 1000 ppm, benih dapat berkecambah 100% dengan serempak dalam periode 2 minggu. Untuk Zamia furfuracea, lama perendaman yang terbaik adalah 15 menit dalam H2SO4 dan 24 jam dalam larutan GA3. Disarankan benih disiram teratur dengan intermittent mist. Perlakuan ini juga efektif untuk mengecambahkan benih Macrozamia communis.

 
Walau pun benih tampak masak, beberapa species Cycas mengalami kesulitan berkecambah. Hal ini dapat disebabkan embrio sebenarnya masih dalam tahap perkembangan yang dini. Penyimpanan dalam linkungan yang hangat dapat mempercepat perkembangan embrio, namun juga berakibat viabilitas benih menjadi lebih singkat.

Sebaliknya, penyimpanan dalam keadaan dingin berakibat pertumbuhan embrio lebih lambat namun viabilitas benih dapat dipertahankan.

 Cara terbaik adalah menyimpan benih yang baru dipanen – yaitu benih yang telah berkembang penuh – pada suhu 5 C selama 4 bulan untuk memberi kesempatan pertumbuhan embrionya. Bila disimpan pada suhu ruang, sekitar 22C dalam periode yang sama, embrio dapat berkembang pula, namun hanya 45% benih yang berkecambah setelah sarcotesta dipisahkan dari benih. Perlakuan dengan asam sulfat dan GA3 tidak memberikan hasil yang konsisten. Penelitian-penelitian yang dilakukan selanjutnya menunjukkan bahwa perlakuan dengan asam sulfat tidak diperlukan, namun perlakuan GA3 pada umumnya memberikan hasil yang baik.

 Harus diingat bahwa benih sikas bersifat rekalsitran, yaitu benih tidak bisa direhidrasi bila kadar airnya sempat turun di bawah nilai kritisnya. Kondisi ini sering ditunjukkan dari terpisahnya endosperm dari sclerotesta, sehingga benih menjadi ‘rattling’ dan mengambang bila diletakkan dalam air. Mengambangnya benih tidak selalu berarti benih tidak viabel. Sebagai contoh, benih Cycas rumphii mengandung jaringan seperti spons sehingga selalu mengambang.

Secara umum semua benih sikas yang masak responsif terhadap perlakuan GA3.

 Perkecambahan benih sebaiknya menggunakan media yang memiliki drainase yang baik, dan posisi benih sebaiknya horizontal atau lateral, namun tidak boleh tegak/vertikal. Sebagai contoh, benih Macozamia desnisonii tetap lekat dengan tunasnya selama dua tahun atau lebih setelah berkecambah, sehingga tidak boleh dicabut secara paksa. Selain itu, daun-daun yang tumbuh dari bagian atas batang yang pendek tidak dapat berkembang penuh bila benih ditanam tegak.

 Pemangkasan akar (Root Pruning)  untuk meningkatkan absorpsi air dan nutrisi tanaman

 
Sikas pada umumnya tumbuh sangat lambat, dan hal ini diduga karena pertumbuhan akar yang lambat. Hasil percobaan yang dilakukan Dehgan dan Johnson (1987) pada Z. floridana dan Dioon califanoi (data tidak dipublikasikan), Cycas revoluta dan beberapa species lain menunjukkan bahwa bila akar dari bibit yang baru tumbuh dipotong sampai ke pangkalnya lalu direndam dalam larutan IBA 2000 ppm, akar-akar baru akan tumbuh. Hal ini merupakan ciri dari hampir semua sikas. IBA yang dipakai biasanya adalah K-IBA (IBA yang mengandung Kalium), dan perendaman dilakukan selama 5 menit.

Penggunaan zat pengatur tumbuh lain, Benziladenin (BA) walaupun efektif untuk merangsang percabangan akar, tak disarankan karena mengakibatkan akar-akar yang gemuk dan pendek. Akar-akar yang kerdil ini dapat tumbuh normal kembali, namun dibutuhkan waktu lama sebelum pertumbuhan normal ini terjadi.

Dengan pertumbuhan akar yang lebih cepat, pertumbuhan tanaman pun terangsang. Hal ini disebabkan dengan bertambahnya jumlah akar, makin banyak jumlah air dan nutrisi yang bisa diserap tanaman. Dengan memberikan pengairan dan pemupukan yang teratur, pertumbuhan sikas menjadi lebih cepat dan memiliki kualitas yang baik, lebih baik dari yang tumbuh liar di hutan.

 

Percabangan: Perbanyakan Vegetatif

 
Saat ini prosedur standard untuk perbanyakan sikas secara kultur jaringan belum ada. Sikas tidak memiliki tunas lateral sehingga tidak memiliki cabang, walau pun ada kasus-kasus di mana tanaman jantan dapat bercabang. Namun ini jarang sekali terjadi. Pada kasus seperti ini, setelah produksi cone, pucuk bercabang dua dimana cabang yang kedua berposisi 90 derajat dari cabang pertama. Kasus ini hampir tak pernah terjadi pada tanaman betina. Kalau pun ada, cabang muncul dari dasar tanaman bukan dari pucuk.

 
Aplikasi  beberapa zat pengatur tumbuh, seperti Promoline (GA4/GA7 + BA) dapat meningkatkan jumlah tunas, terutama pada Z. floridana dan C. revoluta. Setelah bercabang tanaman akan menjadi sangat besar dibandingkan tanaman yang tumbuh liar. Teknik ini potensial digunakan untuk konservasi tanaman langka dan tanaman yang terancam punah – misalnya karena sulit atau sedikit menghasilkan biji. Saat ini masih dievaluasi apakah teknik ini bisa diaplikasikan dalam skala lebih luas.

 

Penanaman dan Pemeliharaan: Irigasi dan Pemupukan

 
Pengusaha tanaman hias sering beranggapan bahwa sikas tidak menguntungkan untuk diusahakan secara komersial, karena pertumbuhannya terlalu lambat. Dan memang banyak species sikas yang tumbuhnya lambat, sehingga untuk memasuki masa reproduktif dibutuhkan waktu yang lama.

Pertumbuhan ditentukan oleh produksi daun tahunan, sementara produksi daun tergantung pada pertumbuhan akar. Dengan demikian, usaha untuk merangsang pertumbuhan akar akan berdampak baik bagi pertumbuhan tajuknya.

 

Media yang ideal untuk sikas adalah yang memiliki drainase baik, pH optimal, dan kadar hara yang seimbang. Media yang terlalu kering atau terlalu basah berakibat buruk pada pertumbuhan tanaman. Kondisi yang terlalu lembab mengurangi oksigen dan berakibat buruk pada serapan hara dan penggunaannya oleh tanaman.

 
Jenis-jenis sikas dengan habitat yang ‘mesic’ seperti Zamia, beberapa species Bowenia spp., Cycas spp., Microcycas calocoma, Macrozamia spp., Lepidozamia spp dan Stangeria eriopus, membutuhkan irigasi lebih sering dan media yang lebih lembab dibandingkan species-species yang berasal dari habitat ‘xeric’, seperti Z. furfuracea, Encephalartos spp., Dioon spp dan beberapa species Ceratozamia. Media optimum disarankan mengandung  peat moss – pasir – perlite – pine ark dengan proporsi volume yang sama, ditambah dolomit 2.25 kg/m3 dan 1.25 kg/m3 hara mikro.

 
Tanaman yang tumbuh pada media dengan pH masam (< 6.5) tumbuh kurang baik. Malformasi seperti frizzle top dan defisiensi hara mikro secara tidak langsung disebabkan pH media terlalu rendah. pH optimal sebaiknya 6.5-7. pH rendah dapat dikoreksi dengan penambahan dolomit. Seluruh sikas menunjukkan sensitivitas terhadap defisiensi hara mikro. Bila ini terjadi tambahkan hara mikro melalui pemupukan.

Untuk menghindari terjadinya defisiensi hara mikro dapat digunakan pupuk slow release/pelepas hara lambat, dengan demikian pemupukan tidak perlu dilakukan sering dan ketersediaan hara dapat dipertahankan dalam waktu relatif lebih lama.

 
Terdapat korelasi antara jumlah pupuk dan tingkat naungan. Pertumbuhan lebih cepat dan jumlah daun lebih banyak bila tanaman dinaungi 30-50% dengan penambahan pupuk dalam bentuk larutan 200-300 ppm per minggu. Data ini diperoleh dari tanaman Z. furfuracea, Z. floridana, Cyas revoluta, dan C. taitungensis.

Kesimpulan

 Semakin populernya sikas di satu sisi meningkatkan apresiasi terhadap tanaman ini, namun juga dapat membahayakan populasi sikas yang hidup di hutan/habitas alaminya. Kebutuhan akan berbagai species sikas untuk koleksi dan budidaya melebihi suplai, sehingga populasi alami sikas semakin lama semakin berkurang. Hal ini harus disadari dan dimengerti oleh petani dan pengusaha tanaman hias. Walau pun badan internasional seperti CITES telah membatasi pengambilan sikas dari habitat alaminya, hal ini terus menerus terjadi. Diperlukan usaha bersama untuk melakukan penelitian untuk menghasilkan sikas yang berkarakter baik untuk mengurangi pengambilan sikas dari habitat alaminya.

 

 








Gardenweb Info © 2008. All rights reserved | Privacy Policy